Hari ini gw kebetulan mampir ke sebuah kios elektronik di deket kosan buat nyari kabel lan.
"Mang minta kabel lan 2 meter. Yang pc to router ya", kata gw. Sedikit kebingungan dia menyahut "Emm, pc to hub?". Tunggu dulu, emm... bedanya router ma hub? Perasaaan baru tadi ujian matkul jarkom, udah lupa aja gw.
Tanpa berpikir lama, akhirnya gw iyakan saja. Toh klo tar salah bisa gw tuker lagi, pikir gw saat itu. Akhirnya si amang lgsg merakit tu kabel dan tanpa lupa memasang bracketnya.
Iseng2 gw nanya, " Mang emang bedanya bikin kabel pc to pc sama pc to hub apa sih?" sembari berharap gw akan diajari cara bikinnya.
Jawabannya agak mengejutkan, "Waduh mas, saya ga bisa jelasin. Yang saya tahu yaa bikinnya gini. Emang dari sononya gini. Saya ga bisa klo suruh nerangin. Saya kan ga sekolah"
Terhenyak dengan jawaban, gw jadi berandai-andai soal ini. Wow, ternyata di Indonesia tu yang penting kemampuan praktis ya ? Apa iya konsep itu ga begitu penting, dan bisa dateng belakangan?
Lalu gw jadi bertanya-tanya, klo kemampuan praktis terus yang kita kembangkan, kita bisa maju ga ya? Apa negara ini terlalu practical hingga selalu menyandang gelar exportir tenaga kerja potensial? Bisa ga ya gantian, kita yang punya Tenaga Kerja Malaysia ?
Trus gw jadi keinget waktu dulu gw pernah ngobrol ma sodara gw. Kebetulan dia menghabiskan masa kecilnya di Australia. Iseng2 nanya soal gmn sekolahnya disana. Dia memberi contoh perbandingan yang seperti ini :
Klo di Australia, saat duduk di SD klas 2 lo masih diajari tentang konsep pertambahan dan pengurangan sederhana, tapi siswa diharapkan jadi mengerti betul arti pertambahan itu apa. Tidak jarang digunakan peraga untuk ketersampaian materi.
Sedangkan di Indonesia, kelas 2 SD sudah disuruh untuk "menghapal" pertambahan hingga menyentuh tiga digit. Bahkan (mungkin) bisa sampai menyentuh perkalian dan pembagian. Klo 10+5 ya hasilnya 15. Hasilnya bisa diduga, kebanyakan anak ga tau kenapa 10 + 5 = 15.
Walaupun tidak lantas kondisi pendidikan di luar seperti Australia itu bisa di terapkan di Indonesia, gw cuma ingin menggaris bawahi bahwa konsep itu penting kan?
Gw ga bisa menahan diri untuk berpikir lebih lanjut soal konsep ini. Lantas muncul pertanyaan dalam benak gw, buat apasih kita harus "ngehapalin sejarah"? Kenapa ujian sejarah itu yang keluar soal tempat, tokoh, tanggal suatu peristiwa? Bahkan sampai sekarang gw masih mendengar orang tua yang mengidentikan belajar itu adalah menghapal.
Buat apa kita tau tokoh sejarah anu lahir tanggal sekian? Toh ga semua tokoh kita peringatin tanggal lahirnya kan ?
Gw sebenernya mengiyakan jg bahwa mengetahui fakta dan kejadian sejarah adalah penting untuk menghormati para pendahulu kita, cuman tolong diingat bahwa ada hal yang paling penting daripada sekedar menghapal peristiwa sejarah.
Menurut gw konsep di balik peristiwa sejarah adalah hal yang paling penting. Seharusnya bukan eventnya yang ditanamkan, tapi hikmah di balik event itu. Ini lebih penting, karena kejadian itu mungkin terulang kembali. Dan kelak saat bangsa ini akan dilanda kejadian yang sama, maka bangsa ini bakal tahu apa yang harus dilakukan.
"Belajar dari Sejarah" bukan berarti kita harus tau setiap detil yang terjadi di masa lampau. Ditambah lagi pada kenyataan bahwa ingatan manusia terbatas.
"Belajar dari Sejarah" berarti kita bisa mengambil nilai2 yang positif dari kejadian di masa lampau untuk diterapkan di masa kini, dan mengambil hikmah dari peristiwa sejarah untuk menghindarkan kita dari kejadian yang buruk seperti halnya yang terjadi di masa lampau.
Beberapa contoh di atas adalah segelintir kejadian yang semakin menguatkan gw berasumsi bahwa di Indonesia ternyata kemampuan praktis +hapalan lebih umum diajarkan daripada konsep+kemampuan analisis.
Masih kurang contohnya ?
Okey, satu lagi, tapi kali ini contohnya berupa pertanyaan :
Kenapa banyak posisi strategis di kebanyakan perusahaan di Indonesia dipegang oleh orang asing, sedangkan posisi yang bersentuhan dengan lapangan dipegang orang lokal?
Akhirnya gw berujung pada suatu kebingungan:
Klo dah gini yang salah dimana, orang2nya, sistem pendidikannya, kultur orang2nya, dan atau pemerintah? Siapa yng harus dibenerin dulu? Apa yang bisa kita lakukan ?
Let's figure it out..
NB :
buat si amang, thx mang buat kabelnya. It works fine. Tetep semangat mang ! Setiap kerja keras pasti ada hasil. Semoga ketemu orang yang bisa sekolahin amang. Orang ga tau konsep aja bisa jago ko, gimana klo dah punya konsep?
Wednesday, March 26, 2008
Monday, March 24, 2008
Kuis oh kuis ...
Tulisan gw kali ini muncul lantaran gw terusik dengan bertebarannya kuis2 yang menggunakan teknologi sms. Gw merasa semakin banyak aja, entah di tv, media cetak dan lain sebagainya. Semakin banyak, semakin bikin gw gatel bwat ngebahas.
Kuis yang gw omongin tu karakteristiknya yang kayak gini :
Sedangkan modal digunakan hanya untuk registrasi ke seluler provider dan media publikasi, yang gw rasa ga akan sebanding dengan pendapatan yang didapet. Setelah berjalan, yasudah, ga perlu ngapa2in lagi, biarkan saja berjalan, ga perlu risk response, monitor pasar, dsb, layaknya bisnis lainnya, usaha gw bisa berjalan.
Selain itu ditambah dengan pengetahuan masyarakat yang tidak merata, dan tren masyarakat yang materialistik membuat semakin laku bisnis yang menawarkan nilai komersial yang tinggi. Bayangkan saja, mainset orang yang seperti ini : gw paling cuman ngeluarin pulsa 100rb, gw yakin bs menangin kuis 'anu' yang hadiahnya dengan nominal 1juta misalkan.
Tawaran yang menarik bukan?
Dan kegusaran gw berlanjut pada akhir dari kuis ini. Gw merasa kita ga dapet bukti yang valid tentang keberadaan pemenang dari kuis ini. Ya boleh lah, dikatakan si ini menang ini, si itu menang itu, tapi dari mana kita bisa tau bahwa si ini dan si itu tu ever existed /beneran ada kan?
tulisan ini memang tidak berdasarkan fakta dan data yang akurat, melainkan cuma asumsi dan pandangan pribadi gw. Gw jg ga bermaksud menyerang siapapun. Sampai sekarang gw jg ga menyalahkan bisnis jenis ini ko, toh kenyataannya jg ga ada yang protes tuh so far. Klo ada yang tersinggung gw minta maaf. Dan klo ada yang punya pemahaman lebih, dan disertai fakta dan data yang akurat silakan saja kemukakan. Toh sampai sekarang berpendapat blom kena pajak kan?
Pesan yang pengen gw sampaikan di sini : untuk berhati2 terhadap apapun bentuk penawaran yang mengatasnamakan keuntungan financial. Karena akhir2 ini makin marak penipuan yang terjadi. Klo lo emang sedang menghadapi suatu tawaran yang menarik, jangan melihat apa yang ditawarkan, gak ada salahnya untuk mempelajari dulu dan mempertimbangkannya dengan logis apakah tawaran tersebut emang make sense ?
Kuis yang gw omongin tu karakteristiknya yang kayak gini :
- Menawarkan hadiah yang bikin ngiler
- Pertanyaan yang mudah dijawab oleh kebanyakan orang, bahkan terkesan retoris
- Prosedur keikutsertaan yang gampang (klo contoh kasusnya di atas cukup ngetikin reg spasi bla...bla.. ke nomor tertentu)
- Adanya propaganda yang atraktif dari host ataupun content publikasinya (e.g. dengan meyakinkan bahwa lo berpeluang besar untuk menang)
- Potensi pasar yang luas.
- Keuntungan selangit
- Tanpa perlu effort lebih untuk maintenance ataupun supervisi
- Tren masyarakat yang materialistik
- Pendidikan masyarakat yang tidak merata
Sedangkan modal digunakan hanya untuk registrasi ke seluler provider dan media publikasi, yang gw rasa ga akan sebanding dengan pendapatan yang didapet. Setelah berjalan, yasudah, ga perlu ngapa2in lagi, biarkan saja berjalan, ga perlu risk response, monitor pasar, dsb, layaknya bisnis lainnya, usaha gw bisa berjalan.
Selain itu ditambah dengan pengetahuan masyarakat yang tidak merata, dan tren masyarakat yang materialistik membuat semakin laku bisnis yang menawarkan nilai komersial yang tinggi. Bayangkan saja, mainset orang yang seperti ini : gw paling cuman ngeluarin pulsa 100rb, gw yakin bs menangin kuis 'anu' yang hadiahnya dengan nominal 1juta misalkan.
Tawaran yang menarik bukan?
Dan kegusaran gw berlanjut pada akhir dari kuis ini. Gw merasa kita ga dapet bukti yang valid tentang keberadaan pemenang dari kuis ini. Ya boleh lah, dikatakan si ini menang ini, si itu menang itu, tapi dari mana kita bisa tau bahwa si ini dan si itu tu ever existed /beneran ada kan?
tulisan ini memang tidak berdasarkan fakta dan data yang akurat, melainkan cuma asumsi dan pandangan pribadi gw. Gw jg ga bermaksud menyerang siapapun. Sampai sekarang gw jg ga menyalahkan bisnis jenis ini ko, toh kenyataannya jg ga ada yang protes tuh so far. Klo ada yang tersinggung gw minta maaf. Dan klo ada yang punya pemahaman lebih, dan disertai fakta dan data yang akurat silakan saja kemukakan. Toh sampai sekarang berpendapat blom kena pajak kan?
Pesan yang pengen gw sampaikan di sini : untuk berhati2 terhadap apapun bentuk penawaran yang mengatasnamakan keuntungan financial. Karena akhir2 ini makin marak penipuan yang terjadi. Klo lo emang sedang menghadapi suatu tawaran yang menarik, jangan melihat apa yang ditawarkan, gak ada salahnya untuk mempelajari dulu dan mempertimbangkannya dengan logis apakah tawaran tersebut emang make sense ?
Saturday, March 15, 2008
masa kecil...
Setiap orang pasti punya kisah masa lalu yang unik dan menarik. Entah kenapa, akhir-akhir ini gw jadi inget kehidupan masa kanak-kanak gw. Mungkin cerita gw akan menimbulkan beragam reaksi, tapi ga ada salahnya klo gw ceritain sedikit. Sapa tau ada yang masa kecilnya kek gw.
Gw kebetulan lahir dan besar di desa. Di tempat kelahiran gw, klo boleh gw rinci, masih terdapat banyak hamparan sawah, sungai dan properti lain yang nampaknya sudah menjadi hal yang langka saat ini. Jauh dari kesan modernitas dan hedonisme, di desa gw ini, nampaknya masih sulit menemukan properti yang bisanya menjadi identitas sebuah kota besar, katakanlah pusat perbelanjaan (sampai sekarang belum ada, paling pol minimarket), warnet (yang gw tau hanya ada 2), dan segelintir aksesoris lainnya.
Dan sebagaimana layaknya seorang bocah kampung, gw mengalami banyak pengalaman unik dan mungkin jarang ada yang ngalamin. Ya, gw pernah menjadi si bolang! Ni gw ambil beberapa kisah masa kecil gw :
Waktu kecil, gw pernah mandi di sungai( beneran !! bukan kolam untuk berenang). Bahkan klo diinget2 sampai sekarang, gw masih terheran2 kenapa gw kepikiran nyebur ke air semacam itu. Udah ga jelas lagi warna rupanya-- orang (maaf) boker disitu, mandi dan nyuci ditempat itu jg, mancing pun disitu. Jadi sudah bukan rahasia lagi, klo penyakit kulit dulu menjadi langganan sehari2 gw. Ups ketauan deh...
Selain itu, gw jg pernah maen2 ke sawah, cari2 kerang sungai, setelah dapet dibakar pake kayu seadanya dan dimakan deh bareng2. Serius, ga pake bumbu tetek bengek, ga pake mikir 2 kali. Pahit, campur tanah dan ga enak boy, cuman ya gpp yang penting kan rame.
Masih di lingkungan persawahan, Gw pernah ngilangin suvenir yang dikasih orang tua gw yang jatuh ke dalam petak bidang lahan pertanian. Saking panik dan takut klo barang itu sampe bener2 ilang().
Gw pernah manjat pohon "talok" (gw ga tahu padanan kata untuk jenis tumbuhan ini) di kebon orang. Ya trus apa uniknya klo cuman gitu doank?? Eitss.... tunggu dulu boy, belum kelar tuh ceritanya. Emang sih tujuan awalnya buat makan buah "talok" itu. Cuman pas asik2 memetik tu buah, kita ga sengaja memergoki (tepatnya mengintip sih :P) anak gadis tetangga yang lagi mandi. OMG!! Kecil-kecil ko udah mesum ya... Gimana klo dah gede ??
Gw ma temen2 sekampung gw jg pernah ngejar2 dan ikut mukulin ular yang masuk ke pemukiman penduduk di deket rumah gw. Gw jg pernah diajarin sama temen SD gw waktu itu gmana membuat perangkap buat kalajengking yang nantinya dipake buat adu kalajengking. Gw pernah manjat pagar, trus jatoh mpe ketusuk pecahan botol.
Sebenarnya masih banyak cerita menarik lainnya tentang masa kanak-kanak gw. Masih banyak lagi kenangan menarik, dan klo diinget2 bisa bikin gw autis ketawa sendiri. Tar deh klo ada waktu gw ceritain lagi.
NB:
Sekarang yang jadi pertanyaan, klo gw emang orang kampung, kenapa gw gak mempergunakan bahasa formal / baku ? (ex: aku/saya --> gw)
Subscribe to:
Posts (Atom)

